SELAMAT DATANG

selamat bergabung dengan IMAN SYACH :

Sabtu, 08 Agustus 2009

TIPS MENGHADAPI MASALAH

Ketika kita sudah bersemangat mengejar cita-cita, mungkin di tengah jalan kita akan mendapat sebuah masalah. Mungkin karena kita terlalu konsentrasi dan sibuk dengan kegiatan-kegiatan, hubungan dengan teman-teman kita jadi renggang. Atau karena kita terlalu sibuk aktif di organisasi, kita jadi sering pulang terlambat sehingga membuat ibu kita marah- marah karena banyak pekerjaan rumah yang kita tinggalkan. Yah, itulah hidup, senantiasa ada masalah. Tapi pandanglah masalah sebagai tantangan, bukan sebagai hambatan. Masalah adalah hakikat dari pendewasaan diri kamu dan hakikat dari motivasi. Ketika tidak ada masalah yang perlu diselesaikan, maka kita tidak akan berkembang.
Pandanglah masalah sebagai peluang. Mengapa demikian? karena masalah akan memberi kita peluang untuk mengupayakan hal-hal yang selama ini kita yakini; sasaran, fokus, berpikir positif, iman kepada Allah, kepercayaan kepada orang lain, sayang kepada keluarga dan mereka yang dekat dengan kita. Pandanglah masalah sebagai suatu tantangan, suatu peluang untuk menggunakan talenta kita untuk kemajuan orang lain dan mengembangkan diri kita sendiri. Masalah akan membuat kita lebih besar, dan ketika kita menjadi besar, kita mendapatkan masalah yang lebih besar pula.

Kita yakin setiap masalah pasti ada penyelesaiannya. Jika kita suatu saat menghadapi masalah, gunakan enam langkah berikut ini :
  1. Jangan takut terhadap masalah, bersikaplah tenang jangan panik. Ketenangan kita akan membuat kita jernih dalam memandang sebuah persoalan, sehingga kita akan segera mendapat jalan keluarnya. Yakinlah bahwa masalah yang sedang menghadang kita adalah alat uji bagi kita. Kalau kita lulus menghadapinya, kapasitas kita akan menaik. Ingat, hidup tanpa masalah adalah masalah itu sendiri.
  2. Pelajari masalah, lihatlah secara seksama masalah tersebut namun jangan biarkan masalah tersebut mengacaukan pikiran kita. Lihatlah secara jeli, sebenarnya sumber masalah itu apa sih. Timbanglah apakah masalah ini berat atau ringan. Tapi jangan sampai kemudian maslah justru merusak konsentrasi kita.
  3. Berkonsentrasilah pada penyelesaiannya, jangan terlalu fokus pada pertanyaan mengapa ada masalah. Segera cari jalan keluar walaupun penyelesaiannya itu sederhana.
  4. Bergeraklah dari yang diketahui menuju hal yang tidak diketahui, kumpulkan berbagai informasi untuk membantu penyelesaian masalah itu.
  5. Pilihlah satu penyelesaian yang baik bagi orang lain dan juga bagi diri kita. Jangan sampai sebuah penyelesaian masalah justru menimbulkan masalah baru lagi.
  6. Bertindaklah, sekalipun ketika perlu mengambil sedikit resiko, jangan biarkan masalah mengambang tanpa penyelesaian. Ambillah keputusan meski itu terasa pahit bagi kita.
Kepandaian kita dalam menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi adalah pertanda bahwa kita mulai dewasa. Dengan demikian, kita akan tetap bisa mempertahankan konsentrasi tanpa dihadang masalah yang bertumpuk-tumpuk.

Sumber : Smart Diary 'Catatan harian remaja Muslim'

Kamis, 30 Juli 2009

Sejarah Agama Islam Di Indonesia (Kerajaan Cirebon)

Kesultanan Cirebon adalah sebuah kerajaan islam yang ternama di Jawa Barat. Kerajaan ini berkuasa pada abad ke 15 hingga abad ke 16 M. Letak kesultanan cirebon adalah di pantai utara pulau jawa. Lokasi perbatasan antara jawa tengah dan jawa barat membuat kesultanan Cirebon menjadi “jembatan” antara kebudayaan jawa dan Sunda. Sehingga, di Cirebon tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi oleh kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.
Pada awalnya, cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Demikian dikatakan oleh serat Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda. Lama-kelamaan cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang diberi nama caruban. Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa, agama, bahasa, dan adat istiadat.
Karena sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan nenangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon ini berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon), yang kemudian menjadi cirebon.
Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya Alam dari pedalaman, cirebon menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara jawa. Dari pelaburan cirebon, kegiatan pelayaran dan perniagaan berlangsung antar-kepulauan nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, tidak kalah dengan kota-kota pesisir lainnya Cirebon juga tumbuh menjadi pusat penyebaran islam di jawa barat.

Al kisah, hiduplah Ki gedeng Tapa, seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati. Ia mulai membuka hutan, membangun sebuah gubuk pada tanggal 1 Sura 1358 (tahun jawa), bertepatan dengan tahun 1445 M. Sejak saat itu, mulailah para pendatang menetap dan membentuk masyarakat baru di desa caruban. Kuwu atau kepala desa pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah raden Walangsungsang. Walangsungsang adalah putra prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, putri Ki Gedeng Tapa. Setelah ki gedeng alang-alang meninggal walangsungsang bergelar Ki Cakrabumi diangkat sebagai Kuwu pengganti ki Gedeng Alang-alang dengan gelar pangeran Cakrabuana.
Ketika kakek ki gedeng Tapa meninggal, pangeran cakrabuana tidak meneruskannya, melainkan mendirikan istana Pakungwati, dan membentuk pemerintahan cirebon. Dengan demikian yang dianggap sebagai pendiri pertama kesultanan Cirebon adalah pangeran Cakrabuana (…. – 1479). Seusai menunaikan ibadah haji, cakrabuana disebut Haji Abdullah Iman, dan tampil sebagai raja Cirebon pertama yang memerintah istana pakungwati, serta aktif menyebarkan islam.
Pada tahun 1479 M, kedudukan Cakrabuana digantikan oleh keponakannya. Keponakan Cakrabuana tersebut merupakan buah perkawinan antara adik cakrabuana, yakni Nyai Rarasantang, dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Keponakan Cakrabuana itulah yang bernama Syarif Hidayatullah (1448 – 1568 M). Setelah wafat, Syarif Hidayatullah dikenal dengan nama sunan Gunung Jati, atau juga bergelar ingkang Sinuhun Kanjeng Jati Purba Penetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatura Rasulullah.
Pertumbuhan dan perkembangan kesultanan Cirebon yang pesat dimulai oleh syarif Hidayatullah. Ia kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti kesultanan cirebon dan banten, serta menyebar islam di majalengka, Kuningan, kawali Galuh, Sunda Kelapa, dan Banten. Setelah Syarif Hidayatullah wafat pada tahun 1568, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam cirebon. Pada mulanya, calon kuat penggantinya adlah pangeran Dipati Carbon, Putra Pengeran Pasarean, cucu syarif hidayatullah. Namun, Pangeran dipati carbon meninggal lebuh dahulu pada tahun 1565.
Kosongnya kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat istana yang memegang kenali pemerintahan selama syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati melaksanakan Dakwah. Pejabat tersebut adalah Fatahillah atauFadillah Khan. Fatahillah kemudian naik tahta, secara resmi menjadi sultan cirebon sejak tahun 1568.
Naiknya Fatihillah dapat terjadi karena dua kemungkinan pertama, para sultan Gunung Jati, yaitu Pangeran Pasarean, pangeran Jayakelana, dan pangeran Bratakelana, meninggal lebih dahulu, sedangkan putra yang masih hidup, yaitu sultan Hasanuddin (pangeran Sabakingkin), memerintah di Banten berdiri sendiri sejak tahun 1552 M. Kedua, Fatahillah adalah menantu Sunan Gunung Jati (Fatahillah menikah dengan Ratu Ayu, putri sunan Gunung Jati), dan telah menunjukkan kemampuannya dalam memerintah Cirebon (1546 – 1568) mewakili Sunan Gunug Jati. Sayang, hanya dua tahun Fatahillah menduduki tahta Cirebon, karena ia meninggal pada 1570.
Sepeninggal Fatahillah, tahta jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati, yaitu pangeran Emas. Pangeran emas kemudian bergelar panembahan ratu I, dan memerintah cirebon selama kurang lebih 79 tahun. Setelah panembahan ratu I meninggal pada tahun 1649, pemerintahan kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama pangeran Karim, karena ayahnya yaitu panembahan Adiningkusumah meninggal dunia terlebih dahulu. Selanjutnya, pangeran karim dikenal dengan sebutan Panembahan Ratu II atau panembahan Girilaya.
Pada masa pemerintahan Panembahan Girilaya, Cirebon terjepit di antara dua kekuatan, yaitu kekuatan Banten dan kekuatan mataram. Banten curiga, sebab cirebot dianggap mendekat ke mataram. Di lain pihak, mataram pun menuduh cirebon tidak lagi sungguh-suingguh mendekatkan diri, karena panembahan Girilaya dan Sultan Ageng dari banten adalah sama-sama keturunan pajajaran.
Kondisi panas ini memuncak dengan meninggalnya panembahan Girilaya saat berkunjung ke Kartasura. Ia lalu dimakamkan di bukit Girilaya, Gogyakarta, dengan posisi sejajar dengan makam sultan Agung di Imogiri. Perlu diketahui, panembahan Girilaya adalah juga menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma. Bersamaan dengan meninggalnya panembahan Girilaya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, yakni para putra panembahan Girilaya di tahan di mataram.
Dengan kematian panembahan Girilaya, terjadi kekosongan penguasa. Sultan ageng tirtayasa segera dinobatkan pangeran Wangsakerta sebagai pengganti panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten. Sultan ageng tirtayasa pun kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu trunajaya, yang pada saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari mataram. Dengan bantuan Trunajaya, maka kedua putra penembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan, dan dibawa kembali ke Cirebon. Bersama satu lagi putra panembahan Girilaya, mereka kemudian dinobatkan sebagai penguasa kesultanan Cirebon.

Panembahan Girilaya memiliki tiga putra, yaitu pangeran murtawijaya, pangeran Kartawijaya, dan pangeran wangsakerta. Pada penobatan ketiganya di tahun 1677, kesultanan cirebon terpecah menjadi tiga. Ketiga bagian itu dipimpin oleh tiga anak panembahan Girilaya, yakni :
1. Pangeran Martawijaya atau sultan Kraton Kasepuhan, dengan gelar Sepuh Abi Makarimi Muhammad Samsudin (1677 – 1703)
2. Pangeran Kartawijaya atau Sultan Kanoman, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677 – 1723)
3. Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon, dengan gelar pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677 – 1713)

Perubahan gelar dari “panembahan” menjadi “sultan” bagi dua putra tertua pangeran girilaya dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Sebab, keduanya dilantik menjadi sultan Cirebon di Ibukota banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Adapun pangeran wangsakerta tidak diangkat sebagai Sultan, melainkan hanya panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para ilmuwan keraton.

Pergantian kepemimpinan para sultan di cirebon selanjutnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798 – 1803). Saat itu terjadilah pepecahan karena salah seorang putranya, yaitu pangeran raja kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama kesultanan Kacirebonan.
Kehendak raja kanoman didukung oleh pemerintah belanda yang mengangkatnya menjadi Sultan Cirebon pada tahun 1807. namun belanda mengajukan satu syarat, yaitu agar putra dan para pengganti raja Kanoman tidak berhak atas gelar sultan. Cukup dengan gelar pangeran saja. Sejak saat itu, di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu kesultanan Kacirebonan. Sementara tahta sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803 – 1811).
Sesudah kejadian tersebut, pemerintah kolonial belanda pun semakin ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga peranan istana-istana kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya semakin surut. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, ketika kekuasaan pemerintahan kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon.

Sabtu, 18 Juli 2009

Etika Penelusuran Gua

chamberGua merupakan karya alam yang membutuhkan waktu jutaan tahun baru terbentuk, namun rentan terhadap kerusakan. Kemahiran tehnik saja belum mampu menjadi tolok ukur seorang penelusur gua, seorang pemula ataupun yang berpengalaman sekalipun harus memenuhi ETIKA dan Kewajiban penelusur gua.

ETIKA

1. Sejak semula harus disadari bahwa seorang penelusur gua dapat merusak gua, bisa saja membawa kuman, jamur dan virus asing kedalam gua. Juga sampah para penelusur, karbit, plastik, kaleng, batu baterai dll. Termasuk juga mencoret-coret dengan benda apapun. Karena itu ikutilah MOTTO NSS dari USA :

“ Jangan mengambil apapun,…. kecuali mengambil foto”

“ Jangan meninggalkan apapun,…. kecuali meninggalkan jejak”

“ Jangan membunuh apapun,…. kecuali membunuh waktu”

2. Gua adalah bentukan alam yang prosesnya berjuta-juta tahun, kerusakannya merupakan kerugian yang tidak dapat ditebus. Karenanya jangan merusak gua, mengambil atau memindahkan sesuatu didalam gua tanpa tujuan jelas yang dapat di pertanggungjawabkan.

3. Menelusuri gua harus dengan kesadaran, berbuatlah sewajarnya, kemampuan tidak perlu ditutupi dan tidak perlu di pamerkan. Adalah melanggar ETIKA bila memaksakan diri melakukakan tindakan diluar kemampuan tehnis, juga bila mental kesehatan tidak memadai.

4. Tunjukkan respek terhadap penelusur gua dengan cara:
· Tidak menggunakan peralatan tim lain tanpa persetujuannya. Jangan membahayakan penelusur lain, mengambil dan memutuskan tali yang sedang di pasang, memindahkan tangga dan alat-alat lain yang di pakai penelusur lain.

· Tidak menghasut penduduk setempat untuk menghalangi atau melarang rombongan lain memasuki gua.

· Jangan gegabah menganggap seolah-olah anda penemu sesuatu, kalau anda belum yakin betul tidak ada orang lain yang menemukannya.

· Jangan melaporkan hal-hal yang tidak benar demi sensasi dan ambisi pribadi.

· Setiap usaha penelusuran gua adalah usaha bersama, bukan usaha pribadi dan publikasinyapun tidak boleh menonjolkan prestasi pribadi.

· Jangan menjelekkan sesama penelusr gua dalam publikasi, meskipun si penelusur membuat hal negatif, karena akan memberikan gambaran negatif terhadap penelusur gua,

· Jangan melakukan penelitian yang sama apabila ada tim lain yang sedang melakukannya dan belum mempublikasikannya.

KEWAJIBAN

1. Konservasi lingkungan gua harus menjadi tujuan utama kegiatan speleologi dan dilaksanakan sebaik-baiknya oleh setiap penelusur gua.
2. Membersihkan gua dan lingkungannya menjadi kewajiban setiap penelusur gua.
3. Apabila sesama penelusur gua memerlukan pertolongan maka wajib di berikan bantuan.
4. Setiap penelusur gua wajib memberikan respek terhadap penduduk sekitar gua, mintalah ijin seperlunya dan tidak membuat keonaran.
5. Bila meminta ijin/ nasehat dari instansi/ kelompok tertentu maka harus dirasakan sebagai suatu kewajiban untuk memberikan laporan kepada mereka.
6. Bagian-bagian berbahaya dalam gua wajib diberitahukan kepada penelusur gua lain jika anda mengetahuinya.
7. Tidak diperbolehkan memamerkan benda hidup maupun mati dari dalam gua kepada kalangan non penelusur gua, untuk menghindari hasrat untuk memiliki dari mereka, cukup foto saja.
8. Tidak dianjurkan untuk mempublikasikan suatu gua sebelum diyakini usaha perlindungan gua tersebut oleh pihak yang terkait. Kerusakan gua oleh para awam karena publikasi tersebut menjadi tanggung jawab si penulis berita.
9. Setiap musibah yang di alami penelusur gua wajib di beritakan melalui media massa.
10. Wajib memberitahukan tujuan lokasi, lama penelusuran, dan waktu kembali kepada sanak keluarga dan rekan-rekan serta melapor pada penduduk setempat, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
11. Wajib memperhatikan cuaca dan kemungkinan bahaya banjir.
12. Dalam setiap musibah di usahakan bertindak dengan tenang tanpa panik dan wajib patuh pada instruksi pimpinan tim.
13. Wajib melengkapi diri dengan perlengkapan dasar yang memenuhi syarat dan pengetahuan pemakaian alat tersebut.
14. Setiap penelusur gua wajib melatih diri dalam ketrampilan gerak dan pengguanaan alat.
15. Wajib membaca publikasi tentang gua dan lingkungannya untuk menambah wawasan, dan bagi yang mampu melakukan penyelidikan ilmiah wajib menulis publikasi untuk memperluas pengetahuan yang dimilikinya.

sumber : http://finspac.com

KODE ETIK PECINTA ALAM INDONESIA

PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA “

“PECINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KAMI KEPADA TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR ”

” PECINTA LAM INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA “

Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Memelihara alam beserta isinya serta menggnakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.

3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.

4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.

5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam

6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.

7. Selesai.

Disyahkan bersama dalam

GLADIAN IV – 1974 Di Ujungpandang

Kamis, 11 Juni 2009

DIKLATSAR


Di sakolahku ada satu Eskul yang paling Aku sukai yaitu Pecinta Alam (PA), Alasan Aku kenapa ikut Eskul ini karena Aku paling suka dengan tantangan, kecintaanku kepada Alam membuatku semangat untuk mengikuti Eskul ini.
Pada tgl 13 Desember 2005, Aku an semua teman-temanku mengikuti DIKLATSAR pecinta Alam di gunung Ciremai. mau gak mau Aku harus mengikutinya karena ini adalah syarat untuk menjadi Anggota sekaligus sebagai Pendiri Organisasi kami, kami beranggotakan 10 orang, 6 perempuan dan 4 laki-laki termasuk Aku.
Di hari yang pertama Aku bener-bener merasa kaget dan terkejut banget saat berada di hutan, yang biasanya dirumah Aku mendengarkan suara Anak-anak kecil berteriak-teriak dengan sangat lantangnya sekarang dihutan Aku hanya bisa mendengarkan suara jangkrik dan burung-burung yang berkicau. sungguh ini semua diluar dugaanku, Aku pikir DIKLATSAR ini cuma kegiatan biasa ternyata 3 hari 3 malam kami di gembleng tanpa merasakan sedikitpun rasanya bercanda tawa dengan teman-teman.
Didinginnya malam yang diselimuti kabut putih, kami tidur hanya beratapkan jashujan yang lebarnya cuma pas dengan tubuh kami, terkadang kami pun gak jarang mendapat perlakuan keras dari senior-senior kami.
tigahari mulai berlalu akhirnya kamipun mendapatkan apa yang kami impikan selama ini yaitu menjadi Anggota PECINTA ALAM. berkat kesabaran dan keberanian kami menghadapi semua masalah dan tantangan yang menerpa kami selama 3 hari kami dihutan, Akhirnya kami resmi sebagai anggota sekaligus sebagai pendiri organisasi kami yang kami beri nama KOPALASPA.

Rabu, 13 Mei 2009

CURAHAN HATI


kegagalan yang pernah aku alami sering kali membuat hati dan jiwa ini merasa gelisah, terkadang hati kecil ini bertanya-tanya apa salahku sampai-sampai aku di sakitin seperti ini..?
apa mungkin karena aku yang selalu gak ada disampingnya..? tapi Aku ngelakuin begini bukan semata-mata karena Aku Egois, Aku hanya menjalankan kewajibanku yang harus Aku laksanakan yaitu menuntut ilmu.
Bertahun-tahun kau bersama-sama denganku susah, senang, Kita pernah jalani bersama tapi kini semua itu hanyalah tinggal kenangan, kenangan yang sangat berarti buat Hidupku. sampai saat ini Apakah kamu pernah memikirkan apa yang pernah kamu jalani selama 3 tahun denganku..? Aku harap kamu bisa merasakan apa yang kini Aku rasakan.
Takdir memang gak bisa disalahkan Aku hanya bisa berharap disuatu saat nanti kita berdua bisa menemukan pasangan hidup yang bakal bisa mengerti kita. Cinta memang terkadang bisa membuat hati kita jadi luluh tapi Cinta juga bisa membuat hati kita jadi kukuh.


TINGGALKANLAH APA YANG MERAGUKANMU KEPADA APA YANG TIDAK MERAGUKANMU.

IKHLAS

Dulu kau berikan nafasmu untuk memberiku Hidup....
menuntunku untuk semua harapanku.....
memberiku arah dan jalan yang lurus....
seperti harapan yang ku inginkan ....
Tuhanku, adakan ketulusan itu....
yang bisa memberiku keikhlasan ......
dan Aku bermaksud memilikinya.....
dan kini Aku berharap tiap langkahku ada keikhlasan darinya....
walau kau tak pernah tahu tiap tingkahku ingin ketulusan darimu......
yang selalu mengharapkanmu......